Cerita Desa
Simak narasi terbaru dari kurator budaya, warga, dan kolaborator Desa Wisata Sidorejo.
Lihat paket perjalananSimak narasi terbaru dari kurator budaya, warga, dan kolaborator Desa Wisata Sidorejo.
Menampilkan 4 dari 5 cerita komunitas
Pameran Wanua Brata resmi ditutup dengan menghidupkan kembali Pasar Urup-urup, sebuah tradisi barter di Desa Sidorejo yang menempatkan rasa saling percaya di atas nilai nominal mata uang. Melalui pertukaran hasil bumi yang heterogen selama musim panen, pasar ini bukan sekadar transaksi ekonomi, melainkan manifestasi etika kecukupan dan teknologi sosial kuno yang menjamin ketahanan pangan setiap rumah tangga.
Museum Pawukon mempersembahkan Pameran dan Launching Buku Wanua Brata, sebuah ruang dialog inklusif yang mempertemukan rekam jejak historis desa dengan visi futuristik anak-anak dalam Sayembara Ngramal 2125. Sebuah pengingat bahwa masa depan bukanlah sekadar ramalan, melainkan hasil dari kebijakan dan kerja kolektif yang kita tanam hari ini.
Daun jarak gundul, atau daun jarak putih, diyakini oleh masyarakat Dusun Ledok dan Desa Sidorejo dapat menangkal petir, terutama bagi para petani. Kepercayaan ini berasal dari kisah Eyang Selayuda, tokoh sakti yang pernah menangkap petir dan menetapkan daun jarak putih sebagai tanda bagi keturunannya. Hingga kini, sebagian masyarakat masih percaya bahwa dengan memakai daun ini saat hujan, mereka akan terlindungi dari sambaran petir.
Setiap bulan Ruwah, pada Jumat Kliwon, warga Padukuhan Ledok percaya seekor macan gaib melewati kampung mereka. Tidak ada yang tahu bentuknya, hanya aumnya yang terdengar. Bu Siti, salah satu warga yang pernah mendengar dan melihat macan itu, percaya bahwa macan tersebut tidak akan mengganggu dan hanya berkunjung, sebagaimana dipercayai para sesepuh. Dari pengalaman-pengalaman ini lahirlah cerita “Macan Lewat” di Padukuhan Ledok.